Minggu, 14 Maret 2010


luka gangrene pada diabetes

0

Apa itu gangrene ?

Gangrene adalah luka yang sudah membusuk dan bisa melebar, ditandai dengan jaringan yang mati berwarna kehitaman dan membau karena disertai pembusukan oleh bakteri.
Adapun pada penderita diabetes melitus, jenis gangrene basah (diabetic gangrene) dan umumnya terdapat di kaki. Pada penderita diabetes melitus, gangrene disebabkan oleh neuropathy, angiopathy dan komplikasi lainnya. Untuk merawat agar luka gangrene tidak lebih parah, berikut ini beberapa tips merawat luka gangrene.

Tips merawat luka gangrene pada pasien diabetik :


Lihat kondisi luka pasien, apakah luka yang dialami pasien dalam keadaan kotor atau tidak, ada apus atau ada jaringan nekrotik (mati) atau tidak. Setelah dikaji, barulah dilakukan perawatan luka. Untuk perawatan luka biasanya menggunakan antiseptik ( NaCl) dan kassa steril.

Jika ada jaringan nekrotik, sebaiknya dibuang dengan cara digunting sedikit demi sedikit sampai kondisi luka mengalami granulasi (jaringan baru yang mulai tumbuh).

Lihat kedalaman luka, pada pasien diabetes dilihat apakah terdapat sinus ( luka dalam yang sampai berlubang) atau tidak. Bila terdapat sinus, ada baiknya disemprot ( irigasi) dengan NaCl sampai pada kedalaman luka, sebab pada sinus terdapat banyak kuman.

Lakukan pembersihan luka sehari minimal dua kali ( pagi dan sore), setelah dilakukan perawatan lakukan pengkajian apakah sudah tumbuh granulasi, (pembersihan dilakukan dengan kassa steril yang dibasahi larutan NaCl).

Setelah luka dibersihkan, lalu ditutup dengan kassa basah yang diberi larutan NaCl lalu dibalut disekitar luas luka, dalam penutupan dengan kassa, jaga agar jaringan luar luka tidak tertutup. Sebab jika jaringan luar luka ikut tertutup akan menimbulkan masrasi (pembengkakan).

Setelah luka ditutup dengan kassa basah bercampur NaCl, lalu ditutup kembali dengan kassa steril yang kering untuk selanjutnya dibalut.

Jika luka sudah mengalami penumbuhan granulasi ( pertumbuhan jaringan kulit yang baik/ bagus yang membuat luka rata), selanjutnya akan ada penutupan luka tahap kedua ( skin draw), biasanya diambil dari kulit paha. Penanganan luka diabet, harus ekstra agresif sebab pada luka diabet kuman akan terus menyebar dan memperparah luka. ( Nara sumber : Zuster Dedeh Hermawati)


Salon Kaki Bagi Penderita Diabetes


Penderita diabetes harus sejak dini memperhatikan secara serius bagian tubuhnya terutama pada kaki, hal tersebut perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya luka yang berlanjut dengan infeksi, seperti gangrene. Pengontrolan secara teratur oleh penderita diabet bertujuan agar lebih dini menyadari adanya luka yang kemudian sulit disembuhkan, khususnya kaki.Gangguan itu berupa kerusakan pada saraf dan kerusakan pembuluh darah dan infeksi.

Gangguan atau kerusakan pada saraf dan pembuluh darah di kaki membuat penderita diabetes mengalami mati rasa (baal) pada kakinya. Biasanya penderita diabetes tidak menyadari telah terjadi luka pada kaki karena tak langsung tampak. Kurangnya pemahaman dan kepedulian pada luka di kaki sering berakibat pada tindakan yang memerlukan biaya mahal. Tak heran, beberapa rumah sakit besar mulai berusaha menunjukan perhatiannya terhadap penderita diabet. Salah satu bentuk layanan yang diberikan bagi penderita diabetes adalah klinik kaki diabetes atau lebih dikenal dengan salon kaki diabet. Salah satu rumah sakit pemerintah yang memiliki salon kaki adalah RSCM ( Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), Jakarta. Di salon kaki ini, pasien diabetes dapat melakukan perawatan kakinya.

Mulai dari pemotongan kuku dan perawatannya ( manicure dan pedicure) serta perawatan luka kaki. Salon kaki yang sudah mulai ada sejak tahun 1994 ini, tak hanya merawat luka dan pemotongan kuku saja, namun bersama tim kesehatan lainnya seperti dokter, ahli gizi dan perawat bersama-sama memantau dan memberikan penyuluhan pada penderita diabetes akan pentingnya menjaga kadar gula darah serta merawat kaki agar tidak luka. Berbeda dari salon perawatan kaki umumnya, salon kaki diabet ini lebih mengutamakan perawatan secara klinis dan higienis dan tidak melihatnya dari nilai esetika dan komersil. Menurut Bapak Dace Abullah salah seorang perawat di klinik kaki diabet, RSCM Jakarta untuk perawatan kaki, biasanya penderita diabetes umum yang datang dikenakan biaya Rp 25.000. Namun jika pasien tidak mampu, dapat memanfaatkan fasilitas seperti Askeskin, Gakin, Askes dan lainnya, itupun untuk pasien yang tidak punya uang tidak dipaksakan. Suatu harga yang tidak relatif mahal untuk sebuah kesehatan.

Dace pun menjelaskan bahwa belum banyak rumah sakit yang memiliki fasilitas salon kaki diabet. Untuk masalah perawatan atau pemotongan kuku, menurut Ita Octavia, Skp pasien diabet tidak dianjurkan memotong kukunya sendiri, karena umumnya pasien diabet sudah mengalami ganguan retinopati, gangguan penglihatan. Untuk perawatan di rumah, lebih lanjut Ita Octavia, Skp menganjurkan pasien untuk menggunakan kikir untuk memperpendek kuku, hal itu bertujuan agar saat melakukan pemendekan kuku kaki tidak terluka oleh gunting kuku.Di rumah, pasien dapat melakukan perawatan sendiri, dengan mengikir kuku kaki. Dan dengan alat sederhana seperti alat kikir, sikat lembut dan batu apung, handuk, pelembut (lotion), kaca kini pasien diabet dapat melakukan perawatan sendiri di rumah. Cara memotong kuku, pertama kaki dicuci dengan sabun, selanjutnya keringkan kaki dengan handuk kering.Lalu dilihat secara keseluruhan, apakah kuku mengalami penebalan atau jamuran dilihat distribusi rambut dan kakinya barulah dilakukan perawatan. Jika perlu potong kuku, lalu dikikir. Jika kuku keras dapat menggunakan larutan H2O2 yang dapat melunakan kuku atau kutikula.

Motong kuku tidak dapat dilakukan dengan gunting kuku biasa, namun harus dengan tang kuku khusus.Kuku juga dipotong tidak boleh melengkung jadi harus lurus ( datar), dan pojokan kuku dipotong jangan terlalu kedalam sebab dapat menimbulkan cantengan.Jika kaki pasien luka, kaki harus dilihat dulu kondisinya. Apakah mengalami Merawat luka pun yang harus dilakukan adalah melihat kondisi luka kaki pasien mengalami nekrotik (jaringan mati), kotor atau tidak. Jika mengalami kotor, luka dibersihkan dengan NaCl, jika mengalami penebalan ( jaringan mati), dapat menggunakan gerinda untuk memperhalus kaki. Barulah dilakukan pelepasan jaringan kulit mati, lalu dengan kasa steril ditutup dan diperban. Namun, untuk perawatan kaki, semua berpulang kembali pada kondisi luka dan kaki pasien diabet. Untuk mencegah agar kaki pasien diabet tidak mengalami masalah, pasien harus menggunakan alas kaki setiap harinya yang bertujuan untuk melindungi kaki agar tidak terluka, lalu rajin membersihkan dan mencuci kaki, pasien juga harus rajin melakukan senam kaki diabet.

0 komentar:

Posting Komentar